"Mengubah Sampah Menjadi Berkah: Belajar Mencintai Bumi Sejak Usia Dini."

Oleh: Nur Anani

(Mahasiswa STAI Putra Galuh Ciamis)

 

Apakah kalian sudah pernah melihat ekspresi anak-anak ketika melihat sampah yang berserakan? Jika belum, mari kita perhatikan ekspresi anak-anak penerus bangsa ketika melihat sampah yang berserakan di sekitar mereka? Bagaimana ekspresinya?

Terkadang kita sebagai orang dewasa terlalu menyepelekan anak kecil/anak usia dini tentunya, karena kita pikir mereka belum cukup umur untuk mengenal kebersihan tapi ternyata rasa ingin tahu mereka yang cukup besar adalah satu pondasi yang sangat kuat untuk membangun karakter peduli bumi (peduli lingkungan) sejak dini. Melalui Kurikulum Merdeka, kita sebagai pendidik bukan lagi menyuruh mereka "membuang sampah pada tempatnya" Melainkan kita mengajarkan cara memecahkan masalah atau mencari tahu "mengapa ada sampah" dan "apa yang harus kita lakukan?"

 

Pada buku Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran PAUD di Era Kurikulum Merdeka, ada sebuah kasus dimana sekolah PAUD yang tempatnya tidak jauh dari pasar tradisional. Banyaknya sampah plastik dan sisa-sisa makanan yang menjadi pemandangan harian banyak orang justru dijadikan peluang untuk belajar bagi anak-anak melalui proyek "Aku Sayang Bumi".

 

Memicu Rasa Ingin Tahu (Inkuiri Spontan)

Hal yang sangat menarik terjadi saat anak-anak menemukan banyak sampah berserakan setelah hari libur. Bukannya guru langsung meminta anak memungutnya, tetapi malah memberikan “provokasi” dengan meletakkan tumpukan sampah tersebut di tengah lingkaran saat Circle Time (waktu berkumpul melingkar bersama anak-anak). Pertanyaan pemantik seperti, “Dari mana asal sampah ini?” atau “Apa yang terjadi jika sampah ini kita biarkan selama satu minggu?” pertanyaan tersebut sukses membuat anak-anak mengamati secara mendalam dan mulai mengelompokkan sampah berdasarkan jenisnya.

 

Menjadi “Pahlawan Bumi” Melalui Project-Based Learning (PjBL).

Setelah fase bertanya selesai, kegiatan pun menjadi lebih berkembang dan menjadi sebuah proyek jangka panjang. Anak-anak pun dengan semangat dan sangat antusias memutuskan untuk menjadi “Pahlawan Bumi” dan dibagi menjadi tiga kelompok sesuai dengan minat mereka, yaitu:

a)      ​Kelompok Organik, dimana anak-anak mengolah sisa makanan menjadi pupuk kompos sederhana.

b)      Kelompok Kreatif yaitu mengubah sampah plastik menjadi pot tanaman dan hiasan kelas.

c)      Kelompok Pemilah adalah kelompok anak-anak yang membuat sistem pemilahan sampah dengan mengecat tong sampah menggunakan simbol-simbol buatan mereka sendiri.

 

Integrasi Belajar yang Alami

Tidak terasa, anak-anak juga belajar literasi dan numerasi. Mereka menghitung banyaknya jumlah botol yang terkumpul, mengukur berat kompos, hingga menulis label untuk setiap tempat sampah. Inilah pokok persoalan mengenai Kurikulum Merdeka; belajar tidak lagi tersekat oleh mata pelajaran, tapi mengalir melalui pengalaman yang nyata.

 

Ternyata hal yang sangat menyentuh hati dari proyek ini bukanlah banyaknya pot yang di hasilkan oleh anak-anak atau banyaknya pupuk kompos yang terkumpul. Tetapi keberhasilan yang sangat terlihat jelas pada perubahan perilaku mereka dan pola pikir (mindset) mereka.

 

Tidak terasa sudah tiga minggu berjalan, proyek inipun melibatkan orang tua yang bekerja di pasar sebagai narasumber, yang menciptakan kolaborasi yang nyata antara sekolah dan keluarga. Hasilnya sangat luar biasa dan di luar dugaan: anak-anak menjadi jauh lebih peka terhadap kebersihan lingkungan. Salah satu bukti nyatanya yaitu, mereka sudah mulai peka terhadap lingkungan dan sekarang mereka membawa botol minum sendiri (tumbler) ke sekolah, karena untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai.

​Ini adalah bukti nyata bahwa isu lingkungan yang terlihat sangat rumit pun bisa diajarkan dengan sederhana. Melalui kolaborasi model inkuiri dan proyek yang berpusat pada anak, dan tanpa kita sadari kita telah memberikan “ruh” ilmiah dalam setiap tindakan mereka. Pada hakikatnya, mengajar bukan lagi soal memberi tahu, tetapi menemani mereka untuk memahami alasan di balik setiap kebaikan yang mereka lakukan untuk bumi.

 

 

 

Sumber: Hidayat, Yusuf. (2026). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran PAUD di Era Kurikulum Merdeka: Transformasi Teori, Panduan Praktik, dan Kumpulan Studi Kasus. Indramayu: PT Adab Indonesia.

 

Share Berita