Dampak Minimnya Pengetahuan Orang tua Terhadap Tumbuh Kembang Anak
Orang tua adalah pilar atau pendidik pertama dan utama bagi anak. Setiap orangtua tentu menginginkan yang terbaik untuk anak, akan tetapi niat baik tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut melainkan orang tua harus mengetahui,memahami semua aspek yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak sehingga semua keinginan bisa tercapai dan terealisasi dengan baik.
Anak-anak bukan sekadar "orang dewasa versi kecil". Mereka adalah individu yang sedang melewati fase-fase krusial dalam pembentukan fisik, kognitif, serta emosional. Ketidaktahuan orang tua mengenai tahapan ini sering kali menjadi hambatan tersembunyi yang berdampak panjang pada masa depan sang buah hati.
Adapun beberapa aspek dan hambatan yang harus diketahui dan dipahami orangtua diantaranya :
1. Resiko stunting dan masalah gizi
Kurangya pengetahuan tentang nutrisi dasar, seperti pentingnya ASI eksklusif selama 6 bulan, pemberian MPASI, makanan begizi, rutin cek Kesehatan, rutin untuk timbang/ukur BB&TB anak ke POSYANDU. Dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik, resiko stunting, masalahnya bukan hanya kurang TB/BB anak tetapi masalah perkembanagan otak, masa otot yang kurang masksimal sesuai grafik usianya. Orangtua yang kurang memahami akan hal ini cenderung memberikan asupan makanan yang kurang seimbang seperti, makanan instan,minuman kemasan, dan makanan serta minuman yang mengandung tinggi gula.
2. Keterlambatan deteksi dini

Ada jendela waktu yang disebut sebagai "1000 Hari Pertama Kehidupan". Jika orang tua tidak tahu apa saja target perkembangan anak di usia tertentu, kapan seharusnya anak mulai merangkak, berbicara, atau bersosialisasi maka keterlambatan perkembangan sering kali baru disadari saat sudah terlambat. Deteksi dini sangat krusial untuk intervensi medis atau terapi yang lebih efektif.
3. Pola asuh yang kurang tepat dan dampak psikologis
Banyak orang tua yang mengandalkan pola asuh turun-temurun tanpa menyaring mana yang masih relevan. Minimnya pengetahuan tentang psikologi anak sering memicu penggunaan kekerasan fisik atau verbal sebagai cara mendisiplinkan. Hal ini dapat menyebabkan trauma,rendahnya rasa percaya diri, hingga kesulitan anak dalam mengelola emosi di masa dewasa. Seharusnya Orang tua mau mendengarkan pendapat anak, bukan hanya memberi instruksi satu arah. Anak diberi kesempatan untuk memilih dan membuat keputusan kecil sendiri (misalnya: memilih baju atau buku cerita).
4. Paparan tekhnologi yang tidak terkontrol
Di era digital, orang tua yang kurang literasi sering menjadikan gawai (gadget) sebagai "pengasuh elektronik" agar anak tenang. Tanpa pemahaman tentang dampak screen time berlebih, anak berisiko mengalami speech delay (keterlambatan bicara) dan kurangnya kemampuan interaksi sosial karena stimulasi yang diterima hanya bersifat satu arah. Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman hal ini sangat sulit untuk dibiasakan karena pada saat ini tidak hanya anak,melainkan orang tua pun tidak terlepas darai gawai (gadget). Orang tua harus menjadi role model bagi anak misalnya tidak menggunakan gawai ketika berkumpul di ruang keluarga,mengarahkan anak untuk melihat konten atau sajian media sosial kearah edukasi dan pengetahuan.
Harapan penulis:
Diharapkan melalui tulisan artikel ini kita sama-sama belajar untuk menjadi atau calon orang tua yang mampu memahami aspek dan dampak kurangya ilmu pengetahuan. Mengingat besarnya dampak yang ditimbulkan, peningkatan literasi mengenai parenting, gizi, dan psikologi perkembangan anak bukanlah sebuah pilihan, melainkan kewajiban. Dengan orang tua yang cerdas dan berwawasan, anak-anak Indonesia akan memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas,dan tangguh. Karena orang tua adalah pendidik pertama dan proses belajar seumur hidup.
Penulis: Sri Riskayanti, Mahasiswi STAI Putra Galuh Ciamis, Prodi PIAUD
Topik: Perkembangan dan Pertumbuhan Anak